Rape isn’t a crime of passion, it is a detrimental cultural issue stemming from systematically socialized gender norms.- anonyms

Terkisah, seorang perempuan sebut saja Mawar, lebih tepatnya mahasiswi yang sedang melakukan KKN mengalami tindakan pelecehan oleh rekan satu timnya, (diperkosa, dilecehkan, dan dihakimi oleh oknum – oknum dari institusi pendidikan tempatnya berkuliah (sebut saja UGM)). Singkat cerita (tidak perlu menjelaskan kronologis pemerkosaan yang dialami Mawar, karena alasan ‘tidak pantas’ bercerita dengan diksi yang menyinggung ke-tabu-an masyarakat), setelah dimediasi oleh pihak kampus dan kepolisian, pelaku kemudian meminta maaf dan Mawar dengan segala kelegowoannya memaafkan. Akhir kisah, kedua belah pihak berdamai.

Mawar menang karena memafkan dan ikhlas, sedang pelaku yang telah menyesali perbuatannya kelak akan mendapatkan pelajaran dari perbuatannya (dan lulus menikmati hari – harinya sebagai sarjana lulusan salah satu Universitas ternama di Indonesia), dan pihak – pihak terkait yang berperan serta dalam menciptakan perdamaian, juga mendapatkan apresiasi. (Harian Damai di Bumi Indonesia, 2019)

Case closed!*standingapplause

Diatas adalah sepenggalan cerita bagaimana pemerkosaan dikontruksi sebagai suatu hal yang romantis. Romantisasi pemerkosaan.

Bereaksi terhadap berita mengenai tindakan pemerkosaan yang dialami oleh Agni. Penulis ingin memberi poin penting dalam tulisan ini :

  1. Pemerkosaan bukan hanya tentang keputusan bodoh atau dorongan libido yang mematikan akal sehat, pemerkosaan adalah tentang kekuasaan / power, kontrol, dan dominasi
  2. Rape Culture adalah budaya dimana pemerkosaan seringkali terjadi, akan tetapi hal tersebut dimaklumi atau dimaafkan oleh masyarakat dan media yang berada di dalam budaya tersebut.

Penulis akan mengawali dengan bagaimana perempuan dijadikan sebagai objek dari pelecehan seksual, meskipun rape culture tidak secara khusus menjadikan perempuan sebagai satu – satunya objek yang dapat didominasi dan diperkosa. Penulis ingin mengarahkan fokus pada dominasi dan pemerkosaan yang terjadi pada perempuan tanpa mengurangi rasa empati pada  penindasan yang dialami oleh laki – laki dan kemungkinan dimana laki – laki juga dapat menjadi korban dari pemerkosaan. 

Perempuan, di dalam rape culture akan dengan mudah dan rentan menerima pelecehan seksual. sedang cat calling, sex jokes, sampai kepada pemerkosaan akan selalu dimaklumi dan dibiarkan oleh orang – orang yang berada di dalam budaya tersebut, pada kondisi tersebut perempuan yang terlebih dahulu menjadi moral trophy dari masyarakat diharuskan untuk bertanggung jawab atas tindakan pelecehan tersebut (victim blaming). Perempuan di dalam rape culture menanggung beban tindak kriminal yang terjadi atasnya dan dominasi yang terjadi padanya bukan saja didukung oleh lingkungan dan orang – orang dalam budaya tersebut, melainkan juga oleh dirinya sendiri. Perempuan kerap merasa bersalah dan mengimani persepsi rape culture, bahwa yang membuat dirinya diperkosa adalah karena tindakannya yang mengundang birahi dan berpakaian tidak senonoh.  

Reaksi terhadap tindak pemerkosaan yang dilakukan HS terhadap Agni, adalah gambaran dari  seberapa ignorant sebagian besar orang – orang yang berada di dalam rape culture melihat tindakan pelecehan. Kondisi tersebut Membuat tindak kriminal satu ini menjadi pembahasan tabu, tanpa menyadari dampak yang disebabkan dari menabukan tindakan pemerkosaan. Penulis ingin membahas juga mengenai bagaimana masyarakat dalam rape culture membuat tabu kasus – kasus pemerkosaan. Meskipun sarana untuk mengemukakan pendapat dan berekspresi sudah sedemikan mudah diakses, pada kondisi dunia yang borderless, 4.0 digital euphoria ternyata tidak semerta-merta merubah persepsi masyarakat rape culture menjadi setidaknya less rapist . Jika headline di media mainstream sulit untuk mengungkapkan secara eksplisit, headline di media sosial harusnya lebih keras, lebih “raw,” lebih tidak segan – segan sama seperti se-tidak segannya orang menulis tentang seberapa buruk perilaku capres A dan seberapa memalukan perilaku Capres B. Ternyata, alih – alih menulis headline“ PEMERKOSAAN, DOMINASI EGO KELELAKIAN HS TERHADAP MAHASISWI UGM” masyarakat dalam rape culture akan lebih memilih memperhalus kalimat seksual, seperti menulis headline “pelecehan seksual mahasiswi UGM” karena kata pemerkosaan dianggap vulgar dan mendatangkan pertanyaan “apakah betul Agni diperkosa? Bukannya suka sama suka, karena yang bersangkutan tidak berteriak ketika dilecehkan.” Ungkapan yang lebih halus untuk mengantikan kata – kata kasar disebut sebagai  Eufimisme. Eufimisme dengan niat yang benar, berguna banyak untuk perihal estetika bertutur dan menghindari persepsi vulgar di suatu budaya. Akan tetapi, menerapkan eufimisme dalam tindakan kriminal seperti pelecehan seksual,memperhalus kata atau kalimat yang menggambarkan bagaimana tindakan dominasi ego seksual terjadi, menurut penulis, adalah tindakan yang tidak pada tempatnya.

Judul berita atau headline yang dianggap vulgar dalam rape culture  akan menerima kecaman dari masyarakat yang berada di dalamnya, bukan karena fakta yang disajikan, tetapi karena kata – kata pemerkosaan, kata – kata yang lekat dengan kelamin, pelecehan seksual, itu menyentuh bagian tabu dari alam bawah sadar masyarakat, dan karenanya tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan.  Ketidaknyamanan bagi beberapa orang akan menimbulkan reaksi berantai, seperti penolakan mental, lalu disusul oleh penolakan yang berupa tindakan (di dalam beberapa beberapa kasus yang diamati oleh penulis, pembaca menulis dalam kolom komentar balairungpress.com berkaitan dengan tulisan mengenai pemerkosaan yang dialami oleh Agni) seperti menyampaikan ketidakpantasan tulisan yang menjelaskan kronologis, jika kemudian masyarakat sedikit peka dengan keganjilan dari sumber rasa tidak nyaman tersebut dan mendorongnya untuk lebih banyak mencari tahu, maka perubahan sikap baru dapat terjadi. Sebagaimana dikatakan oleh Freud “Making the unconscious conscious.” Bahwa untuk menimbulkan kesadaran maka seseorang harus mencari tahu apa yang melatarbelakangi tindakannya, salah satu bypass untuk mencapai tujuan kesadaran tersebut adalah dengan mencari tahu akar dari rasa tidak nyaman. Untuk tujuan perubahan tersebut seberapa penting rasa “nyaman” harus dipertahankan? Empati harusnya lebih banyak berbicara dalam hal ini. Pertanyakan, “bagaimana mungkin pemerkosaan itu dianggap sebagai suatu hal yang “nyaman” serupa cerita – cerita ‘Erotica’ karena itu, mengapa harus menafikan rasa tidak nyaman ketika membahasnya?”

Melihat bagaimana pemerkosaan dipandang dari sudut pandang Hukum di Indonesia, tertuang pada KUHP Pasal 285 yang menyatakan ; ‘perkosaan adalah jika terjadi penetrasi penis ke dalam vagina dan dilakukan dengan kekerasan dan/atau ancaman kekerasan.’ Merujuk pada pasal ini perkosaan hanya terjadi ketika penetrasi penis ke dalam vagina, sedangkan benda – benda lain yang dipenetrasikan secara paksa (termasuk jari) tidak termasuk kasus pemerkosaan.

Dalam Hukum internasional pemerkosaan dianggap sebagai crimes against humanity dan bahkan dapat berujung pada genosida, sebagai mana terjadi di Yugoslavia dan Rwanda, dimana pemerkosaan dijadikan sebagai salah satu senjata perang. Dalam salah satu statuta hukum internasional,  Criminal Tribunals for the Former Yugoslavia & Rwanda (1993 & 1995) dikatakan :

 Through the jurisprudence of both of these tribunals, rape and other forms of sexual and gender violence have been recognized as among the most serious of offenses and have been charged and prosecuted as such. The cases have recognized that rape and other sexual violence can constitute genocide, torture and other inhumane acts.

Dengan melihat tragisnya fakta sosial di masyarakat berbasis rape culture, Tulisan ini, lalu diakhiri dengan mencoba menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu melani pada perkuliahan minggu lalu, mengenai “bagaimana cara mencegah pelecehan seksual?” menurut penulis, (meskipun mungkin absurd) jawabannya adalah masyarakat luas pertama – tama harus menerima rasa tidak nyaman berurusan dengan persoalan seksual.

Bukan bermaksud menyebar ujaran kebencian terhadap pelaku HS, melainkan mencoba berpesan bahwa “setiap tindakan, harus diikuti dengan kesadaran akan konsekuensi yang dilakukan” dan untuk itu kita semua, sebagai manusia bertanggung jawab untuk saling mengingatkan berlomba – lomba pada ‘kebaikan’ dan menghindari ‘keburukan’.

salam,

Penulis ( Bias Cahaya )

Referensi :

https://en.wikipedia.org/wiki/Wartime_sexual_violence#Former_Yugoslavia

https://www.psychologytoday.com/us/blog/love-doc/200907/moral-values-and-the-double-standard

http://www.statepress.com/article/2017/02/spopinion-rape-culture-is-normalized-on-campuses

Book online now &
SAVE
10%
On Your Ride

DOWNLOAD OUR APP
avada-taxi-phone-app

About the Author

Buy Avada Now

Subscribe Today

Subscribe to our monthly newsletter to receive all of the latest news and articles directly to your inbox.

Discussion

Leave A Comment

Testimonials

“Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.”

avada-taxi-testimonial-1

Mike Smith – Brooklyn, NY

Related Posts

If you enjoyed reading this, then please explore our other articles below:

Back to News

Don’t want to use the app?

No problem, book online or give us a call!

BOOK ONLINE
CALL TO BOOK
BOOK ONLINE
CALL TO BOOK